RESENSI BUKU “MEMIMPIN KOTA MENYENTUH JAKARTA”

Buku karangan Alberthiene Endah ini mengulas sebuah memoar Jokowi tentang nilai hidup dan kepemimpinan. Ada beberapa hal yang menjadi catatan  bagi saya selama satu minggu ini disela-sela memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku ini.

Kehidupan sederhana, prihatin, pas-pasan tak lantas dianggap sebagai sebuah penderitaan bahkan dianggap sebagai kemiskinan. Karena kemiskinan hanya untuk manusia yang tak mau berusaha. Hidup berpindah-pindah dalam bantaran sungai, rumah berdinding “gedheg” anyaman bamboo, makan tiga kali dengan lauk ala kadarnya menjadi hal yang sangat biasa. Disyukuri dan menjadi sebuah pembelajaran yang istimewa. Tidak perlu merasa miskin ketika berada dalam kondisi berkekurangan. Merasa miskin hanya pantas disematkan pada orang-orang yang putus harapan dan tidak memiliki semangat apa-apa lagi untuk mengubah nasib.

Pendidikan menjadi hal nomor satu, ketika segala modal digadaikan untuk yang satu ini. Akan tetapi ini dibarengi dengan kerjakeras, patungan biaya, memilih passion yang tepat dan kecintaannya. Tak perlu malu ditinggal gengsi. Keberanian dalam berhijarah untuk hidup mandiri, sekiranya patut menjadi contoh bagi kita. Kadang kita dibuai dengan zona aman dari orangtua sehingga apa yang kita lakukanpun terkadang didikte oleh orang tua kita. Maka beranilah untuk berhijrah, menjadi seorang petualang, pengembara.

Keberanian juga patut dilakukan dalam ketika mencoba berbisnis atau berwirausaha. Inilah modal utama. Keberanian dalam melakukan pinjaman usaha. Terkadang kita takut untuk hutang. Lebih baik sejahtera punya hutang daripada miskin tapi tak punya hutang. Pantang putus asa “ menjadi bagian tak terpisahkan dalam berwirausaha. Begitulah dinamika kehidupannya, kadang naik terkadang turun tetapi bagaimana kita harus komit dan konsisten dengan yang harus semestinya dilakukan.

Menjadi seorang pemimpin itu melayani bukan untuk dilayani. Pemimpin terkadang terjerumus dalam pembangunan fisik dan materi, tapi yang terpenting adalah membangun jiwa, memanusiakan manusia, mengenalkan jatidiri mereka, membuat tumbuh rasa percaya diri mereka, membangun sebuah brand yang memiliki karakter, citra yang baik, dan daya tarik yang tinggi saat dikunjungi.

Satu hal lagi kita diciptakan oleh ALLAH dalam keadaan yang berbeda-beda. Maka buatlah berbeda dengan sesuatu yang pada umumnya, tetapi harus positif. Uniq, different menjadi hal yang istimewa, menjual, dan mempunyai nilai.

tv baru

Sudah sekitar 3 minggu ini keluarga kami tak memiliki siaran TV. Sudah sekitar 4 tahun ini kami berlangganan di salah satu produsen TV berlangganan, akan tetapi decordernya mengalami kerusakan. Kami sudah melaporkan by phone akan tetapi teknisi juga tak kunjung datang, dan kami biarkan saja. Makmum daerah tempat tinggal kami tidak bisa menangkap siaran TV lewat UHF jadi harus berlangganan TV satelit. Kalaupun bisa nonton ya kami harus nonton ke tetangga tapi jarang kami lakukan atau kalau pas weekend saat kami pulang ke rumah di Kota Sampit dengan TV Kabel.

Dari kejadian tadi, saya tetap percaya ada hikmah tersendiri yang bisa saya ambil. Saya sering membaca tentang dampak positif dan negative acara TV di Indonesia. Nilai positif acara TV hanya sekitar 20 %, sementara sisanya diisi dengan sinetron, gossip, berita muka-muka koruptor baru, berita tindak kejahatan sadis, Iklan dll. Hampir di tiap stasiun TV ada yang namannya sinetron. Kadang kalau berbicara dengan pecinta sinetron” mereka selalu ngomong, “ kan ada positifnya juga!!!!. Tapi tak pernah dia sadari dampak pengaruh psikologis bagi kejiwaan seorang penontonnya. Gosip, hehehe….gak usah ngomongin gosip, nanti malah jd asik ngosipin gosip….

Berita tentang korupsi di negeri ini, seakan-akan membuat korupsi itu sudah menjadi umum. Kita tengok di TV, koruptor sudah tidak malu lagi nongol di depan TV, memasang senyuman, dan selalu berkata, “biarkan hukum dipersidangan yang berbicara”, padahal hukum di Indonesia katanya bisa dibeli. Terkadang kalau umum itu menjadi suatu budaya. “Nek Ra Edan ora komanan” begitulah pepatah jawa mengatakan.

Yang lebih sadis juga tayangan kejahatan menjadi sesuatu yang menarik, dikemas lewat acara tersendiri, bahkan menayangkan begitu detail, dengan menayangkan reka ulang. Bukankah itu membuat orang menjadi tahu bagaimana cara berbuat kejahatan. Dantakutnya  lagi kejahatan menjadi semacam budaya. Saya pernah membaca dalam sebuah situs internet, bahwa tanyangan kejahatan tidak layak menjadi konsumsi public, apalagi anak-anak. Di negara Amerika Serikat tayangan semacam ini dibatasi penayangannya.

Dan yang paling besar dampaknya tapi tak pernah kita sadari adalah iklan. Iklan di TV Indonesia ribuan jumlahnya dan tayang setiap 5 menit sekali. Iklan berpengaruh besar terhadap budaya bangsa kita, budaya konsumtif. Dan ternyata bangsa Indonesia merupakan market besar bagi produsen di seluruh dunia dan dunia mengincar bangsa ini.

Tapi Alhamdulillah, semenjak TV tidak ada siaranya, kami mulai  menemukan hikmahnya. Aku menemukan stasiun TV baru, namanya Jabar TV dan Union TV. Acaranya sangat menghibur, lucu dapat langsung berinteraksi dengannya dan selalu mengemaskan. Merekapun dapat memiliki teman setelah seharian dari pagi hingga sore kami tinggal bekerja. “maafkan kami nak”.

Back to Masjid, Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami yang telah meninggalkan kewajiban kami untuk beribadah di Masjid. Alhamdulillah sekali setiap adzan berkumandang, anakku mas Jabar selalu mengajakku untuk sholat di Masjid, dan kalau tidak dituruti dia akan marah. Terimakasih juga Om, om tetanggaku yang juga ikut menghabbit mas Jabar beribadah dan sholat di masjid. Ini jarang dulu kami lakukan ketika suara TV jauh menguasai suara rumah kami dibanding suara adzan. Ya Allah ampunilah kami.

Membaca, ya membaca. Bukankah membaca itu jendela dunia. Ketika TV bergelut dengan buku, maka pemenangnya adalah TV. Dan sekaranglah saatnya menikmati kemenangan sang buku. Sudah ada beberapa buku yang sudah kami baca. Dan memang buku menghadirkan ide, gagasan, membuka mata, jiwa dan pikiran untuk lebih maju lagi. Setelah membaca tentunya ada beberapa yang kami tuliskan sebagai catatan. Disinilah kami mulai mengairahkan lagi ghiroh menulis yang sekian lama terpendam oleh tayangan TV itu.

Selain beberapa hal diatas, ada satu hal lagi kami bisa bangun lebih pagi. Ternyata menonton TV itu sangat melelahkan mata. Begitulah kiranya semoga bermanfaat, dan minta maaf banyak salahnya. Tapi seberapa kuat nafsu kami untuk tidak lagi berteman akrab dengan TV, hehehehhe.

Demam bola

Cerita ini berawal ketika tumpukan koran bekas yang hendak dijual ke pasar oleh nenekku, maklum saja nenekku adalah seorang penjual barang bekas. Satu persatu kuamati beritanya, tapi mata ini selalu tertuju oleh halaman paling akhir di koran tersebut. Isinya tak lain mengulas berita olahraga yang memang begitu aku cintai.

Aku mencintai sepakbola, tentunya banyak orang-orang yang menginspirasiku waktu itu, dari tingkat kampung, pemain yang membela kampungku dalam acara 17an. Rofiq Ismanto penyerang handal PSIM Yogyakarta, walaupun belum pernah nonton dilapangan tentang ketajamannya, tapi dari siaran radio RRI waktu itu menyakinkan aku betapa garangnya striker itu. Tak terlupakan juga sang jendral lapangan tengah Fahri Husaini dengan kemampuannya mengatur serangan membuat hati ini jatuh cinta pada olahraga yang satu ini.

Dan sebenarnya yang memulai adalah Roberto Bagio yang menyapaku mesra di Baturaden. Sungguh pertemuan yang sensasional, memorable dan akhirnya aku tempel foto lusuh itu di dinding almari kamarku. Walaupun saat itu aku sempat dibuat kecewa dengan kegagalan pinaltinya di final WorldCup 1994 di negeri Paman Sam yang mengakibatkan Italia takluk adu pinalti melawan Romario dan Bebeto dengan tarian sambanya.Tapi dialah yang menyihirku sampai mulut ini ngomel-ngomel bak komentator bola disetiap aktifitas saat itu. Benar-benar aku telah gila bola.

Belum lagi cerita sore hari, ketika kami merumput di lapangan bola kebanggaan kami. Walaupun sebenarnya lapangannya seperti lautan, bergelombang, kadang ada pusaran yang bisa menelan kaki-kaki kami. Dan karet gelang itu terikat erat di kepalaku, menirukan gaya pemain bola idolaku yang lain, Fernando Redondo. Demikianlah mimpi, dan cita-cita waktu itu. Tak ada seorang motivator, mentor, membuat mimpi itu menguap seiring berjalannya waktu. Tapi tak lantas berlalu begitu saja, mimpi itu meninggalkan segudang cerita, paling tidak sekarang menjadi striker veteran yang sering menghadirkan gol, hehehhehe

Berbicara mengenai sepakbola, bentar lagi ada gelaran Tunas Agro Cup II. Paling tidak ini media komunikasiku dengan siswa dalam membangun mimpi-mimpi mereka terutama tentang bola. Selain juga untuk berolahraga. Salam Olahraga….!!!!!

djogja memberi rasa

Pulang ke kotaku, Ada setangkup haru dalam rindu, Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna……dst, lagu itu mengawaliku saat kaki ini aku injakkan di bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta, aku pun langsung berdendang dalam hati. Sambutan papan reklame di mulut keluar bandara “Djogja Never Ending Asia” mengisyaratkan begitu besar dan berbudayanya kota ini. Setelah lama aku tinggalkan ternyata banyak perubahan di kota ini. Mulai menjamurnya bangunan-bangunan besar di sudut-sudut kota, banyaknya Mall yang berdiri, tempat karaoke, café2 barat, pusat perbelaanjaan dan super market tak terhitung jumlahnya. Ah bukan itu yang aku banggakan, itu kan kaki-kaki kapitalis yang tak pernah kita sadari yang telah menjerat kita sebagai rakyat kecil.

Djogja berhati nyaman, djogja berbudaya, djogja kota pendidikan, begitulah yang aku harapkan. Walaupun diserang teror Si Bejat kapitalisme, tapi masih ada sisa-sisa djogjaku yang mengajakku untuk bernostalgia. Paling suka dengan wisata kulinernya, hingga aku susun jadwal untuk sejenak menikmatinya. Lagi-lagi aku paling benci dengan kuliner ala barat yang muahal, gak enak, tapi lidah orang yang sok kekota-kotaan sangat mencintainya, dengan gaya-gayaan, dan yang terakhir dipamer-pamerkannya. Read the rest of this entry

mengenang ramadhan di kampung halaman

Allahuakbar Allahuakbar, suara adzan Ashar mulai terdengar dari corong pengeras masjid, pertanda kami segera buru-buru untuk mempersiapkan diri, mengenakan sarung, baju atau kaos seadanya, peci kalaupun ada, maklum saja waktu itu baju baru, kaos, peci amat berharga bagi kami. Kami pun segera beriring-iringan menuju serambi. Dari sudut halaman masjid sudah tampak teman-teman kecilku dengan menenteng buku agenda ramadhan dari sekolah yang harus kami isi, buku tulis untuk mencatat dan sepucuk pena untuk mencatat ilmu yang diajarkan oleh kakak-kakak seniorku.

Untuk yang terakhir, buku tulis dan pena wajib harus kami bawa. Bukan kenapa, saat kaki kami injakkan di undakan lantai yang pertama maka disitulah sudah berdiri sesosok pria besar, rambut godrong kadang dikuncir kadang digeraikan, tanpa senyuman, tampak rahang kuatnya ia tonjolkan, ia pun kemudian bertanya, “ mana buku sama pensilmu?”. Kamipun harus memperlihatkan satu-satu, tak ada yang bisa lolos, kalaupun ada yang tidak membawa buku tulis kamipun harus pulang mengambilnya demi mendapatkan makanan yang kami idam-idamkan. Nasi sedan begitulah teman-teman kecilku menyebutnya. Nasi, sayur, dan lauk yang dibungkus dengan daun pisang dan berbentuk prisma tidak beraturan mirip mobil sedan. Adalah Kang Zahrohwi, yang memberikan pembelajaran bagi kami, belajar kedisiplinan dan kejujuran. Kedisiplinan, karena kami harus selalu membawa buku dan kejujuran, karena tidak ada seorang anakpun yang lolos dari razia yang dilakukannya. Dan satu lagi pelajaran dari beliau, bahwa terkadang dalam pendidikan perlu adanya pemaksaan. Thanks Kang Zahrohwi. Read the rest of this entry

dinamika kehidupan

Senin, 1 Agustus 2011 bertepatan dengan 1 Ramadhan 1432 H. Tapi bukan hal itu yang menarik bagiku, meskipun aku juga berbahagia menyambut puasa pertama di bulan Ramadhan kali ini. Bertiga kami pun meluncur mengendarai mobil Inova milik Perusahaan dengan seabrek tujuan, misi, belanja dan sekedar untuk ngabuburit berbuka puasa. Satu persatu pekerjaan terselesaikan, tapi ada satu hal yang menarik bagiku saat itu, ketika mobil kami berbelok ke sebuah rumah panggung. Rumah panggung dengan dinding kayu sisa seadanya itupun banyak lubang di sana sini sehingga harus ditutupi kertas koran, beratap seng yang telah berkarat dimakan usia, berlangit-langit terpal dan kardus yang mungkin kalau diinjak tikus akan runtuh. Kami pun duduk di lantai kayu ulin tak bertikar, tetapi dengan sambutan dari sang tuan rumahnya begitu luar biasa, sangat welcome, tak ada rasa curiga.

Berawal dari program CSR yang ingin memberdayakan masyarakat dengan memberikan subsidi dan pendampingan ternak ayam potong, kami datang ke tempat pak Bahri. Sosok setengah baya ini pun tanpa ada imbalan apapun memberikan ilmu yang ia punyai, sharing, cerita suka dan duka sebagai peternak dan dengan tulusnya akan selalu memberikan bantuannya jika ia diminta. Layaknya ia jadi penyuluh peternakan mengantikan pegawai-pegawai Negara yang memakan gaji buta itu.

Kamipun masih ngobrol ngalor-ngidul mengenai peternakan dan lainnya, ternyata beliau dulu adalah seorang pengusaha ternak dan  kayu yang cukup sukses. Istrinya sebanyak delapan walaupun yang enam diceraikan semua gara-gara hanya ngincar duitnya aja. Yang tersisa menemani beliau hanya istri yang pertama dan istri yang terakhir, dari situ terlihat orangnya romantic dan sangat filosofis, hehehhe. Lalu bagaimana dia bisa terjatuh seperti sekarang ini, tinggal dirumah yang reyot, jadi kuli ternak dan lainnya?

Adalah kerusuhan etnis yang membuat beliau terjatuh, ia beretnis Madura. Harta benda miliknya habis, yang tersisa hanya semangat untuk tetap bertahan di kota tempat ia merantau dengan segenap mimpi-mimpi yang beliau bangun. Yah begitulah kerusuhan, perang, anarkisme dll tak akan membawa sesuatu yang manis, yang berharga dan bernilai, yang ada tinggal kepedihan dankesediahan. Semangat pak bahri…..

bekerjalah seperti kura-kura

”Bekerjalah seperti kura-kura dan tidak seperti kelinci”,  demikian satu dari 14 prinsip-prinsip inti ”The Toyota Way”.

Mula-mula agak sulit memahami, apa hubungannya kura-kura dan kelinci dengan Toyota Production System (TPS) yang telah berhasil menghantar Toyota menjadi sebuah perusahaan manufaktur otomotif papan atas, baik dari sisi bisnis maupun kualitas.

Saat mencoba mencerna penjelasannya, ingatan saya kembali pada sebuah buku cerita kanak-kanak bergambar.  Isinya sangat sederhana, kisah adu lari antara kelinci dan kura-kura.  Yang membuat buku itu menarik, sekaligus ’bernilai’ adalah karena sang pemenang adalah kura-kura, bukan kelinci sebagaimana wajarnya.

Di dalam bukunya, Taichi Ohno, salah seorang kontributor cetak biru atau ”DNA” dari the Toyota Way menjelaskan:  ”Kura-kura yang lamban tetapi konsisten mengakibatkan lebih sedikit pemborosan dan jauh lebih diinginkan daripada kelinci yang cepat dan mengungguli perlombaan dan kemudian berhenti setelah selang beberapa waktu untuk beristirahat.  Toyota Production System hanya dapat direalisasikan jika semua karyawan menjadi kura-kura”.

Pemimpin-pemimpin Toyota lainnya sering pula mengungkapkan hal yang sama, yang isinya kira-kira adalah  ”Kami lebih suka lambat dan mantap seperti kura-kura daripada cepat dan tersentak-sentak seperti kelinci”.  Demikianlah salah satu filosofi di balik TPS yang kebanyakan berjangkauan jauh ke depan.  Meratakan beban kerja (heijunka) adalah salah satu cara untuk menghindari pemborosan (muda), ketidakseimbangan (mura), dan beban berlebih (muri).

Bagi umat Islam, filosofi di atas bukanlah hal yang terlalu baru.  Di dalam pandangan Islam, setiap peristiwa atau kejadian bukanlah suatu momentum diskrit tanpa konteks, tetapi adalah bagian dari sebuah kesinambungan hidup dan kehidupan, penghubung masa lalu dan masa depan.  Oleh karena itu, hanya orang-orang cerdas (ulil albab) -lah yang dapat memaknai setiap peristiwa dan mengambil pelajaran darinya untuk terus menerus melakukan perbaikan atau peningkatan (continuous improvement = kaizen).

Di dalam beramal (bekerja atau beribadah dalam arti luas), Rasulullah SAW berabad-abad lalu pernah mengajarkan, ”Amal yang paling disukai oleh Allah adalah amal yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit (HR Muttafaqun Alaih)”.  Karena lebih sering mendengarnya dari para kiai, ustadz atau guru agama, maka pikiran kita cenderung membatasinya.  Padahal ada hikmah lain dari sabda Rasul SAW (yang pasti berasal dari wahyu, bukan hawa nafsunya).   Satu di antaranya ditemukan oleh para pendiri dan pemimpin Toyota, yang mungkin belum pernah mengenal Rasulullah SAW apalagi berjumpa dengannya. Wallahu’a’lam

beranikah katakan tidak!

Salut buat pemerintah Amerika Serikat yang mewajibkan perusahaan rokok memuat label gambar-gambar kengerian akibat kebiasaan merokok. Dengan adanya label gambar-gambar tersebut diharapkan Pemerintah  AS dapat mengurangi warganya dalam menkonsumsi  rokok.  Sebenarnya bukan hanya AS saja, akan tetapi Malaysia, Singapura dan Australia juga sudah melakukan hal itu sebagai kebijakannya. Mengapa aku katakan salut, karena pemerintah AS, Malaysia, Singapura, dan Australia dengan nyata telah melindungi warganya dalam kesehatan terutama bahaya merokok. Kita ketahui bagaimana bahaya dalam merokok, sering kita baca juga dalam slogam bungkus rokok, “merokok bisa menyebabkan serangan jantung, kangker, gangguan kehamilan dan impotensi dan lainya lupa, karena sudah puluhan tahun saya tidak merokok dikarenakan tidak punya uang bukan karena membaca slogan dalam bungkus rokok tersebut.

Iklan rokok sering kali menjebak, slogan yang berisikan peringatan ditulis demikian kecil, beda dengan gambar dan iklannya yang menampilkan kegagahan seorang koboi, atau machonya seorang pria, atau beraninya seorang petualang. Ditambah lagi dengan sponsor rokok yang mendukung acara-acara anak muda, dari mulai konser,kejuaraan  olah raga, klub sepakbola dan masih banyak yang lain. Ini jelas menghilangkan pesan penting bahaya merokok. Di AS rokok sudah dilarang mensponsori acara-acara olahraga, berbeda dengan di Indonesia yang malah makin gencar dan menjadi lahan empuk buat produsen rokok untuk mempromosikan produknya. Apalagi ditambah dengan budaya konsumtif, sifat labil dan kurang dewasanya remaja Indonesia dengan mudahnya termakan iklan, kalau gak merokok gak gaul, tidak macho, tidak laki-laki, tidak jantan dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia yang cita-cita luhurnya ingin melindungi segenap bangsa Indonesia!  Beranikah mewajibkan perusahaan rokok memuat label-label kengerian bahaya merokok dalam bungkusnya? Jawabannya mungkin anda semua tahu. Lha wong MUI mengeluarkan fatwa haram merokok aja diributkan apalagi ini. Alasannya Indonesia masih membutuhkan lapangan pekerjaan, begitu banyaknya karyawan yang bekerja di perusahaan rokok, terus nantinya mereka bagaimana?  Alasan yang begitu klasik dan mengelitik jika diukur dari dampaknya yang justru lebih membahayakan, berapa ribu rakyat Indonesia yang terkena penyakit akibat merokok, berapa juta rakyat Indonesia yang hidup dalam kemiskinan akibat merokok. Coba dibayangkan aja, konsumsi rokok di negeri ini kebanyakan dikonsumsi oleh warga miskin, kalau misalnya penghasilan perharinya hanya sekitar Rp. 20.000 (saya mengukurnya dengan GNP Indonesia yang hanya US $ 810), terus konsumsi rokoknya aja satu hari satu bungkus dengan harga Rp. 10.000 misalnya( maaf kalau keliru), kemudian untuk belanja istri Rp. 10.000, terus buat anaknya yang masih sekolah, yang masih butuh masa depan di kasih berapa? Dikasih puntung rokoknya, dikasih racunnya, dikasih abunya….hemmmm. Yuk mulai dari sekarang befikir ulang lagi tentang rokok yang ada dihadapan kita!

Maaf tulisan ini tidak ingin menyinggung siapapun, hanya sebagai pengingat saja, karena sebagai sesame manusia kita harus saling mengingatkan…!

belajar dari pengorbanan

Sebuah pembelajaran terpenting dalam hidup adalah pengalaman apa yang kita dapatkan entah itu baik atau merugikan bagi kita. Seolah-olah pengalaman yang tidak baik, kita langsung menjustifikasi bahwa itu merugikan bagi kita, tapi kalau dipikir berulang lagi ada hikmah di dalamnya. Masih ingat petuah dari founding father republic ini, Ir. Soekarno tentang “Jas Merah”, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Tapi itu sering dilupakan sama kita, atau kita tak mau menengok ke belakang, belajar dari sejarah sehingga kita masih aja jatuh dalam lubang yang sama. Rasulullah SAW juga mengingatkan kita sebagai seorang mukmin agar tidak jatuh dalam lubang yang sama. Begitulah pentingnya kita belajar dari sejarah dan pengalaman entah itu baik maupun kurang baik yang kita alami.

Banyak hal yang kita alami, banyak hal pengalaman yang kita dapatkan dalam hidup menjadikan kita lebih dewasa, lebih banyak ilmu. Dan salah satu cara untuk mendapatkan pengalaman adalah dengan pengorbanan, entah itu harta, benda, keluarga, malu dan lainnya demi sebuah pengalaman. Masih ingat dengan teori busuknya prinsip ekonomi yang tidak pernah relevan itu, berkorban sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Ah…lupakan saja yang itu. Lebih baik cerita tentang pengorbanan dulu waktu belajar TK sampai PT, yang harus berkorban segala-galanya demi sebuah ijazah, harus bangun pagi, belajar ,jalan kaki, naik sepeda berpuluh kilometer, naik bus bergelantungan sampai kalau siang hari harus kelaparan sementara uang dikantong tak pernah ada. Ah pengalaman yang kurang enak, tapi luar biasa pembelajarannya untuk hari ini.

Atau yang patut dikenang, pengorbanan untuk sang mantan, apel malam-malam, tiap hari mentraktir makan, antar jemput kerja, ratusan ribu pulsa untuk telpon pagi-pagi, atau dengan gagahnya membawakan tas berkilo-kilo dibandara dan lain sebagainya. Hehehe……kalau ini sih pengorbanan yang tak pernah dirasakan, karena semuanya pengalaman indah.

Javier “Chicharito” Hernandez, si kacang polong “the rising star MU” ini pun butuh pengorbanan untuk mencapai performa yang luar biasa seperti sekarang ini. Banyak yang telah dia korbankan ketika masa mudanya dihabiskan di akademi sepakbolanya, tidak seperti layaknya remaja-remaja yang lain, pengorbanan di tempa demikian ketat oleh latihan di klubnya, ia harus bangun pagi, harus datang 1 jam lebih awal dari pada teman-temannya demi program latihan, atau dia harus mengorbankan makanan kesukaannya untuk sekedar proporsionalitas badannya, dan harus pulang telat sekitar 1 jam untuk menambah porsi latihan. Demikian besar pengorbanannya tetapi kita bisa lihat hasilnya.

Bagaimana dengan anda, ketika harus berkorban. Kadang kita jengkel  ketika waktu bekerja kita ditambah, datang lebih pagi, bekerja tanpa ada imbalan dan lain sebagainya. Coba kita bandingkan waktu bekerjanya orang Indonesia dengan orang Jepang atau Amerika, orang Indonesia 8 jam, sementara orang Jepang atau AS mencapai 12 jam. Tetapi buah dan hasilnya pun berbeda bukan……GNP Indonesia hanya sekitar US $ 800 sementara mereka mencapai sekitar US $ 35.000. Jadi segala sesuatu butuh pengorbanan, maka janganlah bersedih kalau untuk sebuah pengorbanan, karena pengorbanan akan menciptakan pengalaman, dan pengalaman akan membuahkan hasil yang luar biasa…..heheheheh

susahnya memulai

Semuanya berawal dari mimpi, ketika melihat teman dengan hebatnya bisa menciptakan sebuah usaha, bisa memberikan lapangan kerja buat orang lain, memberikan jasa maupun barang untuk orang lain. Di sini aku masih stagnan, hanya mampu bekerja sebagai seorang pegawai,walaupun sebenarnya aku juga sudah bersyukur akan hal itu. Tetapi itu kalau menengok ke belakang yang masih melihat banyaknya pengangguran di negeri ini, baik pengangguran terbuka yang gak benar-benar memiliki pekerjaan, pengangguran terselubung yang gayanya bekerja tetapi gak menghasilkan apa-apa, atau yang setengah pengangguran yang hanya makan gaji buta atau kerjanya tidak sesuai dengan waktu bekerja. Aku tidak mau berhenti disitu.

Sebenarnya teorinya simple aja, membuat dan menambah nilai suatu benda atau jasa saja. Bisa juga dengan melihat, meniru dan menginovasikan agar sedikit berbeda, begitulah yang selalu aku dengung-dengungkan ke anak didik. Itu sedikit teori ekonomi yang mungkin aku kuasai, ditambah dengan melibatkan faktor-faktor produksi, dari mulai alam, tenagakerja, modal dan sedikit turunan jiwa wirausaha ibuku yang seorang pedagang sebenarnya aku bisa. Bukan cuma ilmu ekonomi yang dipakai, sedikit teori geografis, sosiologis dan historispun bisa membantuku mengaktualisasikan apa yang ada dalam planning pikiranku.

Begitulah sebuah teori, teori tanpa action sama dengan nol besar, tetapi nol besar dengan action akan menjadi luar biasa. Teringat dengan pak Budi, seorang yang awalnya hanya seorang imigran gelap di Sidney, Australia. Ia tak pernah berbekal apa-apa dengan materinya, bekalnya hanya restu dari seorang ibu, kerja keras, tak kenal malu, malu kalau tidak sukses, tak kenal putus asa. Hari-hari waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja. Dari jam 04.00 pagi ia berprofesi sebagai seorang cleaner, mulai siang hari ia bekerja sebagai operator di sebuah perusahaan, dan malamnya ia habiskan waktu sebagai seorang driver taxi di seputaran kota Sidney. Luar biasa kerja kerasnya tetapi kerja kerasnya berbuah ketika ia mulai membuka usaha taxi. Dan kini ia telah mempunyai sekitar ratusan taxi yang beredar di kota Sidney dan sebuah bengkel. Dan yang paling luar biasa ketika ia sudah sukses menjadi seorang bos, ia tak lantas ongkang-ongkang, ia tetap bekerja sebagai mechanic engineering  di bengkel miliknya. Sebuah pembelajaran buat kita. From zero to hero…….