alls iiks eends ustadz was

Alls Iks Eends Ustadz Was
Kata-kata yang inspiring bagiku, mengingat kata-kata inilah yang membuat keder pemerintah kolonial Belanda waktu itu dengan perasaan cemas takut kalau kata-kata itu membangkitkan ghirah pejuang-pejuang pribumi bangkit dan melawan Belanda. Bagiku kata-kata itu begitu sangat berharga, memotivasi diri untuk bangkit dari keterpurukanku selama ini, memperoleh pencerahan, secercah cahaya, enlightment. Sengaja kata-kata itu aku ambi; dari tokoh pendidikan Indonesia, Ki hajar dewantara, , tokoh yang begitu gigih dalam hal aperjuangan mengentaskan kebodohan bangsa, mungkin kalau tak ada orang-orang seperti beliau tak tahu apa nasib kita sekarang.
Akupun begitu kagum dengan keberaniannya mengkritisi pemerintah colonial Belanda, lewat tulisan-tulisannya di harian De Express” Alls Iiks Eens Nederlander Was”. Sengaja aku curi kata-kata itu, walaupun sejenak aku pandangi wajahnya, seakan-akan minta ijin kepadanya, beliaupun tak ragu mengnggukkan dirinya lewat kerlingan matanya yang ikhlas. Monggo, silahkan katanya lewat bahasa bibirnya yang santun sarat dengan budaya Jawa yang agung, penuh dengan adab, tata karma, dan peradaban yang tinggi.
Ya……………..als iks eens ustadz was, teriakku……………….hai siapa kamu, pantas gak? Bisa gak?Ngaca dong! Cicak itu mengejekku….! Pemikiran-pemikiran itulah yang selanjutnya memotivasi aku untuk memperbaiki kehidupanku yang jauh dari nilai-nilai Islam. Ibarat kata masa laluku seperti yang dialami Eropa masa kegelapan pada zaman Pertengahan. Di sinilah aku membutuhkan reformasi hati, pencerahan diri sekaligus menambah pemahaman agama, dan dasar aqidah yang kuat, di samping juga jiwaku yang jiwa seorang pendidik, guru yang memang tak boleh ditinggalkan.

Pelatihan 22
Untuk menjadi ustadz di lembaga pendidikan ini memang harus melewati sebuah pelatihan ustadz/ah, tujuannya untuk memberikan dasar ke-ITannya ( IT : Islam Terpadu). Mengingat It ini bernbeda dengan IT-IT yang lain, barang kali yang lain islam tiruan kali……………, selain juga untuk mnyamakan visi dan misi antara lembaga dengan calon pelatihan. Ini berlaku untuk semua. Sebenarnya terasa beratapalagi masih ditambah dengan biaya pelatihan yang masih ditanggung sendiri dan waktunya yang cukup lama 6 bulan, 4 bulan untuk materi kuliah dan 2 bulan untuk magang. Enam tahun lamanya dibangku kuliah ternyata harus di tambah 6 bulan di lembaga ini.
Hehehe….. perkenalkan teman-teman pelatihanku saat itu, mbak hanik namanya, seorang yang aku kagumi karena suaranya yang lembut mempesona , berliku-liku disetiap cengkoknya, mendayu dayu di setiap baitnya, membuat mata ini terpejam bermimpi disetiap ujung lagunya, badan ini dibuatnya gemeretak, hati dan jantung ini mau copot oleh suaranya, maklum dia seorang penyanyi keroncong yang tiap malam kamis nongol di Jogja TV, tiap malam kamis selalu tak pernah aku tinggalkan tempat duduk di depan TV. Ia selalu easy going, romantic, tapi kadang kala sendu abis……………. Berbagai macam kegagalan terus dia temui…………….
Hari ini terlalu indah untuk di buramkan
Tegakkan langkah itu
Jejakkan langkah itu
Tetaplah jadi bintang gemintang
Ia akan selalu bersinar
Ia pun akan selalu setiia pada sang bulan
Walau kadang sang bulan takkan pernah menampakkan wajah aslinya
“thanks ya friends, “mbak hanik “
Mr Hanifan Asy Syahid, demikian nama lengkapnya, dia seniorku dikampus, seorang aktifis mahasiswa, pakar ekonomi, perfect, pemikirannya sangat matang, dewasa, pengusaha, hal yang dia buat bkurang kadang terlalu ambisius…………….. kurangi dong biar yang lain gak takut! Tumbu ketemu tutupnya, hehehe begitulah persahabatan kami, ngobrol sana sini nyambung, satu visi, jiwa mandirinya kuat.
Sarie, she’s wellcome, smart, easy going heheee yo opo see………..Nuris, yanto, nanang, Dwi, Nilna, Nining, Fatma…………….semuanya pernah mengisi hari-hari ceria dan dukaku
Dari balik jendela
Angin semilir meniup wajah ini
Setangkai bunga nampak layu
Sehelai daun nampak patah dari batangnya
Kutatap langit
Hitam tak berbintang
Apalagi sang bulan
Tertutup kelam topeng sang mega
Sesekali terkantuk dan terpejam
setengah jam sudah berlalu
kau telah bukakan mata
dari balik jendela
bintang gemintang berkumpul dan bercanda
menemani bulan
penuh kerinduan, kebersamaan, dan kasih sayang
Subhanallah……………..
Indahnya malam ini.
20.40 Agustus 2005, Karangkajen, Yk.

“Ustadz 24 jam”
Sedikit tak percaya, kerja 24 jam, kayak apotek saja. Hahaha teriakku sama teman-teman yang lain saat itu setelah tahu maksudnya ustadz 24 jam. Ustadz 24 jam adalah seorang guru yang memang harus totalitas dari fisik dan fikirannya selama 24 jam. Artinya walaupun seharian telah bersama siswa di sekolah ketika di rumah pun harus senantiasa memikirkan apa yang diamanahkan , apa yangmenjadi tujuan sekolah, dan ia pun harus selalu siap dipanggil kapan saja, sama seperti seorang dokter. Kamipun bertanya-tanya, kapan berkumpul, komunikasi dengan keluarga, masyarakat dll.
Ditambah dengan mengetahui jumlah gaji yang akan kami terima, seakan kami mau berlari dari tempat duduk kami disitu. Gaji yang pada wawancara dijanjikan sama dengan UMR ternyata tidak terbukti, jumlah gaji yang kami terima masih jauh dari standar UMR. Lalu bagaimana dengan masa depan kami, dengan keluraga kami, dengan penghasilan segitu. Pertanyaan yang tak pernah terjawab…. Mereka jawab dengan serahkan semuanya kepada Allah, rejeki sudah ada yang mengatur. Jawaban yang snagat bagus akan tetapi pihak yayasan tak pernah melakukan perubahan. Ironis, seorang ustadz yang kinerja profesional, focus, loyalitasnya tinggi, integritas tinggi, fisik dan fikiran selalu tercurah 24 jam, tak kenal lelah, mendapatkan sesuatu yang kuarang layak.
Ia itu seperti bintang gemintang
Ia akan selalu bersinar
Iapun akan selalu setia menemani sang bulan
Walau kadang sang bulan tak pernah menampakkan wajah aslinya

Nyamuk magang
Klaten, kota kesil yang tak pernah sepi oleh mobilitas masyrakatnya, kota kecil yang perekonomiannya dikuasai noleh orang Tionghoa, sementara warga pribumu menjadi kelas dua atau bahkan kelas marginal. Kota yang terkenal dengan industry konveksinya. Biaya hidup di sini tidaklah semurah dengan kota-kota di kawasan jawa tengan dan Jogja. Untuk makan sekali harus merogoh kocek sekitar Rp. 10.000, Makanan favorit, menghinakan, merindukan, menyebalkan, kalangan atas, menengah, bawah makanan murah meriah muntah-muntah bagi bangsa ini yaitu mie ayam di sini juga harus mengeluarkan Rp. 5000.
Tapi bukan itu yang mengenang dari Klaten, disinilah untuk pertama kalinya aku magang di SDIT Mlinjon. Disinilah aku mulai merajut as, awal merubah mimpi, merubah feodalisme yayasan, awal mengapai cita, tapi ada juga hal yang mengganggu. Kedatanganku disambut biasa-biasa aja, serasa tamu gak diundang, kamar tempat aku tidurpun seadanya, kamar sempit, satu tempat tidur yang sering digunakan gudang tanpa bantak, teronggok sekumpulan sapu lantai, kain gak terpakai, buku-buku bekas ditambah sunyinya bangunan tua menambah kejenuhanku.
Malam pertama biasanya malam yang selalu ditunggu, dikenang, indah, dan begitu mengoda, akan tetapi malam yang ditunggu tenyata tak seindah yang dibayangkan. Nyamuk pun ikut-ikutan magang. Malam-malan di temani nyamuk-nyamuk tak bersahabat, ingin aku semprot , ingin aku bakar, ingin aku lempar pakai batu. Semua ancaman gak membuat rasa takut sang nyamuk. Ia malah membangunkanku, mengejekku jam 02.00, sambil menakut-nakuti aku lewat bangunan tua yang sudah lebih dahulu ia tinggali. Yaaa… Nyamuk magang

Ngudi Rindaning Gusti
Dingin memberi kehidupan pagi
Secangkir teh panas menghangatkan badan
Membuka mata membuka ppikiran
Tak lama kami pun berangkat
Menyusuri kota kecil, bukit-bukit bermunculan
Kelokan jalan menambah suasana
Sejenak kami berhenti
Menikmati nasi combro
Belum lima menit, kami bergegas lagi
Sebuah masjid tua
Penuh kesederhanaan, kerinduan
Penuh kedamaian dan kebersamaan
Hal yang sudah langka saat ini
“Ngudi Rindaning Gusti”
11.20, 17 September 2005, Kaki gunung Muria

Hari menyambut pagi, matahari masih malu-malu untuk menampakakan wujud aslinya, dingin menyelimuti tubuh, Nampak masih ragu untuk kuambil air untuk berwudhu. Sengaja aku paksakan untuk membuka mata, membuka hati dengan sesegera mungkin sholat wudhu. Tidak seperti biasanya, hari ini adalah hari ahad, hari liburku, hari sepiku tanpa anak-anak dimana mereka sudah pulang dari asrama. Dan yang paling ditunggu-tunggu, berarti hari ini aku bisa bangun agak lebih siang dari biasanya, itulah yang banyak dilqakukan oleh orang pemalas, orang yang tidak menghargai waktu, dan orang itu termasuk diantaranya adalah aku. Wajib setiap hari untukku sholat subuh di masjid, dan memang sholat subuhnya aku lakukan di masjid sekolah, karena disanalah segala aktifitas kegiatan asrama dipusatkan dimasjid. Cuma kalau hari ahad agak berbeda aku sengaja bermalas-malasan untuk bangun pagi. Aku, Mr Shomad, Mr. Ivan tidak sholat ke masjid, setelah itu ada p …… datang dah bawa mobil untukku, membawaku ke pengajian.

Posted on June 2, 2011, in cerpen. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: