Sekolah itu candu

“Tak kurang dari dua belas tahun waktu yang dibutuhkan untuk bersekolah. Sungguh merupakan rentang waktu yang panjang dan bisa jadi sangat menjemukan. Apalagi kalau hanya sekedar diisi dengan duduk, mencatat, bermain dan yang paling penting mendengarkan guru ketika berceramah di depan kelas. Lalu apa hasil dari duduk-duduk selama belasan tahun itu? Lewat sekolah, seseorang bisa mendapatkan penghormatan tetapi bisa juga mendapatkan cemoohan, atau bahkan mendapatkan kedua-duanya. Ya memang sekolah mampu mencetak seorang anak manusia menjadi pejabat sekaligus penjahat”

Begitulah sinopsis dari buku yang aku temukan di meja rekan kerjaku. Sebenarnya topic ini pernah dibicarakan juga oleh temanku di situs blognya tetapi aku juga ingin mengupasnya. Buku karangan Roem Topatimasaya yang kontroversial menurut aku, di saat pemerintah baru gencar-gencarnya program wajib belajar 9 tahun, wajib bersekolah, eh muncul buku yang mementahkan segala eksistensi dan pentingnya sekolah. Sebenarnya bukan cuma buku ini saja, ada sebuah film berjudul “Alangkah Lucunya negeri ini” juga mengatakan hal yang demikian bahwa peran sekolah tidak bisa menentukan masa depan seseorang.

Sekolah diibaratkan sebuah candu yang bisa membius dan melenakan seseorang, cuma dijadikan sebagai tempat singgah, mengisi waktu luang, bersuka cita mumpung masih muda. Kemudian setelah lulus, terengah-engah untuk mencari kerja, sedikit sentimental, dan ketika sudah bekerja bangga dengan pekerjaannya sebagai pegawai. Yang lebih parah lagi ada yang waktu hidupnya hanya untuk bersekolah tiada henti, setelah lulus di Indonesia, ke Australia, ke Jepang sampai lupa waktu untuk mengimplementasikan dan berbagi ilmunya.

Yah begitulah sekolah, apalagi sekolah di Indonesia yang selalu dibatasi dengan berbagai macam “tetek bengek” kebijakan, aturan, formalitas, kakunya kurikulum, sampai pada hal-hal kecil dari mulai memakai seragam, model gaya rambut dan lain sebagainya. Selama puluhan tahun siswa dikurung dalam kelas, ruang gerak dibatasi, akhirnya jiwanya kemerdekaannya terenggut oleh kebijakan kaku sekolah dan akhirnya menjadi anak yang penakut. Lantas ketika ada anak negeri coba keluar dari jalur yang telah ditentukan oleh pemerintah, menciptakan terobosan diluar umumnya suatu sekolah, pemerintah main hakim sendiri, gak mau mengakui dan lain sebagainya. Sekolah Alam salah satunya, sekolah yang menciptakan kurikulum tersendiri, tidak mengikuti ujian Nasional, tidak diakuinya, baru setelah pemerintah Inggris mengakui kualitas barulah pemerintah mengakuinya. Kemudian ada sekolah Oasis bikinan Adriano Rusfi, Sekolah Bambu di Bali yang lebih banyak mengajarkan ilmu terapan, bercocok tanam, memelihara kambing, berkebun coklat dari pada duduk dikelas menerima pelajaran-pelajaran yang membosankan.

Dalam buku ini juga menyatakan bahwa sekolah itu tidak bisa menentukan masa depan seseorang. Masih ingat aku dengan Sujiwo Tejo si Dalang Edan, mahasiswa tehnik sipil ITB ini gak mau menyelesaikan kuliahnya sampai ibunya menangis, tetapi ia membuktikan bahwa tanpa ijazahpun ia mampu jadi seorang wartawan surat kabar terkenal di Indonesia. Jadi ia satu-satunya wartawan yang tidak sarjana, katanya. Lain halnya dengan kisah pengusaha Eka Cipta Wijaya, pendidikan formalnya hanya SD. Tanpa sekolah yang tinggi ia telah membuktikan menjadi slah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Ia adalah pemilik PT Twiji Kimia, PT Indah Pulp, dan pemilik Bank Internasional Indonesia. Masih ada Susi pengusaha pemegang perekonomian di provinsi Banten dan pemilik pesawat Susi Air ini memutuskan untuk meninggalkan banku sekolah, ia lebih tertarik belajar bisnis, lingkungan, dan pendidikan informalnya.

Dan yang membuat aku agak tercengang-cengang adalh teman sekelas sekolahku waktu SD. Tak terlihat bakat dan talentnya, berasal dari keluarga yang gak mampu, rangking selalu terakhir dan selalu tertinggal dalam pembelajaran dengan teman-teman sekelas, ia juga tidak bisa sekolah tinggi sebagaimana saya dan teman- temanku. Tapi dengan kerja kerasnya ia muncul jadi seorang pemilik 6 UKM, menjadi sosok pemuda teladan daerah, menerima banyak penghargaan, keluar masuk media, mempunyai puluhan karyawan, dan tentunya soal pendapatan, penghasilanku satu tahun tak mampu menyaingi penghasilannya dalam satu bulan.

Hemmm ……begitulah sekolah, penting atau tidaknya teman-teman semua memiliki pendapat yang berbeda-beda. Tapi kalau belajar itu sebuah kewajiban yang harus kita lakukan sepanjang hayat kita.

Posted on June 11, 2011, in social-culture. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: