belajar dari pengorbanan

Sebuah pembelajaran terpenting dalam hidup adalah pengalaman apa yang kita dapatkan entah itu baik atau merugikan bagi kita. Seolah-olah pengalaman yang tidak baik, kita langsung menjustifikasi bahwa itu merugikan bagi kita, tapi kalau dipikir berulang lagi ada hikmah di dalamnya. Masih ingat petuah dari founding father republic ini, Ir. Soekarno tentang “Jas Merah”, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Tapi itu sering dilupakan sama kita, atau kita tak mau menengok ke belakang, belajar dari sejarah sehingga kita masih aja jatuh dalam lubang yang sama. Rasulullah SAW juga mengingatkan kita sebagai seorang mukmin agar tidak jatuh dalam lubang yang sama. Begitulah pentingnya kita belajar dari sejarah dan pengalaman entah itu baik maupun kurang baik yang kita alami.

Banyak hal yang kita alami, banyak hal pengalaman yang kita dapatkan dalam hidup menjadikan kita lebih dewasa, lebih banyak ilmu. Dan salah satu cara untuk mendapatkan pengalaman adalah dengan pengorbanan, entah itu harta, benda, keluarga, malu dan lainnya demi sebuah pengalaman. Masih ingat dengan teori busuknya prinsip ekonomi yang tidak pernah relevan itu, berkorban sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Ah…lupakan saja yang itu. Lebih baik cerita tentang pengorbanan dulu waktu belajar TK sampai PT, yang harus berkorban segala-galanya demi sebuah ijazah, harus bangun pagi, belajar ,jalan kaki, naik sepeda berpuluh kilometer, naik bus bergelantungan sampai kalau siang hari harus kelaparan sementara uang dikantong tak pernah ada. Ah pengalaman yang kurang enak, tapi luar biasa pembelajarannya untuk hari ini.

Atau yang patut dikenang, pengorbanan untuk sang mantan, apel malam-malam, tiap hari mentraktir makan, antar jemput kerja, ratusan ribu pulsa untuk telpon pagi-pagi, atau dengan gagahnya membawakan tas berkilo-kilo dibandara dan lain sebagainya. Hehehe……kalau ini sih pengorbanan yang tak pernah dirasakan, karena semuanya pengalaman indah.

Javier “Chicharito” Hernandez, si kacang polong “the rising star MU” ini pun butuh pengorbanan untuk mencapai performa yang luar biasa seperti sekarang ini. Banyak yang telah dia korbankan ketika masa mudanya dihabiskan di akademi sepakbolanya, tidak seperti layaknya remaja-remaja yang lain, pengorbanan di tempa demikian ketat oleh latihan di klubnya, ia harus bangun pagi, harus datang 1 jam lebih awal dari pada teman-temannya demi program latihan, atau dia harus mengorbankan makanan kesukaannya untuk sekedar proporsionalitas badannya, dan harus pulang telat sekitar 1 jam untuk menambah porsi latihan. Demikian besar pengorbanannya tetapi kita bisa lihat hasilnya.

Bagaimana dengan anda, ketika harus berkorban. Kadang kita jengkel  ketika waktu bekerja kita ditambah, datang lebih pagi, bekerja tanpa ada imbalan dan lain sebagainya. Coba kita bandingkan waktu bekerjanya orang Indonesia dengan orang Jepang atau Amerika, orang Indonesia 8 jam, sementara orang Jepang atau AS mencapai 12 jam. Tetapi buah dan hasilnya pun berbeda bukan……GNP Indonesia hanya sekitar US $ 800 sementara mereka mencapai sekitar US $ 35.000. Jadi segala sesuatu butuh pengorbanan, maka janganlah bersedih kalau untuk sebuah pengorbanan, karena pengorbanan akan menciptakan pengalaman, dan pengalaman akan membuahkan hasil yang luar biasa…..heheheheh

Posted on June 25, 2011, in hikmah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: