beranikah katakan tidak!

Salut buat pemerintah Amerika Serikat yang mewajibkan perusahaan rokok memuat label gambar-gambar kengerian akibat kebiasaan merokok. Dengan adanya label gambar-gambar tersebut diharapkan Pemerintah  AS dapat mengurangi warganya dalam menkonsumsi  rokok.  Sebenarnya bukan hanya AS saja, akan tetapi Malaysia, Singapura dan Australia juga sudah melakukan hal itu sebagai kebijakannya. Mengapa aku katakan salut, karena pemerintah AS, Malaysia, Singapura, dan Australia dengan nyata telah melindungi warganya dalam kesehatan terutama bahaya merokok. Kita ketahui bagaimana bahaya dalam merokok, sering kita baca juga dalam slogam bungkus rokok, “merokok bisa menyebabkan serangan jantung, kangker, gangguan kehamilan dan impotensi dan lainya lupa, karena sudah puluhan tahun saya tidak merokok dikarenakan tidak punya uang bukan karena membaca slogan dalam bungkus rokok tersebut.

Iklan rokok sering kali menjebak, slogan yang berisikan peringatan ditulis demikian kecil, beda dengan gambar dan iklannya yang menampilkan kegagahan seorang koboi, atau machonya seorang pria, atau beraninya seorang petualang. Ditambah lagi dengan sponsor rokok yang mendukung acara-acara anak muda, dari mulai konser,kejuaraan  olah raga, klub sepakbola dan masih banyak yang lain. Ini jelas menghilangkan pesan penting bahaya merokok. Di AS rokok sudah dilarang mensponsori acara-acara olahraga, berbeda dengan di Indonesia yang malah makin gencar dan menjadi lahan empuk buat produsen rokok untuk mempromosikan produknya. Apalagi ditambah dengan budaya konsumtif, sifat labil dan kurang dewasanya remaja Indonesia dengan mudahnya termakan iklan, kalau gak merokok gak gaul, tidak macho, tidak laki-laki, tidak jantan dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia yang cita-cita luhurnya ingin melindungi segenap bangsa Indonesia!  Beranikah mewajibkan perusahaan rokok memuat label-label kengerian bahaya merokok dalam bungkusnya? Jawabannya mungkin anda semua tahu. Lha wong MUI mengeluarkan fatwa haram merokok aja diributkan apalagi ini. Alasannya Indonesia masih membutuhkan lapangan pekerjaan, begitu banyaknya karyawan yang bekerja di perusahaan rokok, terus nantinya mereka bagaimana?  Alasan yang begitu klasik dan mengelitik jika diukur dari dampaknya yang justru lebih membahayakan, berapa ribu rakyat Indonesia yang terkena penyakit akibat merokok, berapa juta rakyat Indonesia yang hidup dalam kemiskinan akibat merokok. Coba dibayangkan aja, konsumsi rokok di negeri ini kebanyakan dikonsumsi oleh warga miskin, kalau misalnya penghasilan perharinya hanya sekitar Rp. 20.000 (saya mengukurnya dengan GNP Indonesia yang hanya US $ 810), terus konsumsi rokoknya aja satu hari satu bungkus dengan harga Rp. 10.000 misalnya( maaf kalau keliru), kemudian untuk belanja istri Rp. 10.000, terus buat anaknya yang masih sekolah, yang masih butuh masa depan di kasih berapa? Dikasih puntung rokoknya, dikasih racunnya, dikasih abunya….hemmmm. Yuk mulai dari sekarang befikir ulang lagi tentang rokok yang ada dihadapan kita!

Maaf tulisan ini tidak ingin menyinggung siapapun, hanya sebagai pengingat saja, karena sebagai sesame manusia kita harus saling mengingatkan…!

Posted on June 28, 2011, in social-culture. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: