dinamika kehidupan

Senin, 1 Agustus 2011 bertepatan dengan 1 Ramadhan 1432 H. Tapi bukan hal itu yang menarik bagiku, meskipun aku juga berbahagia menyambut puasa pertama di bulan Ramadhan kali ini. Bertiga kami pun meluncur mengendarai mobil Inova milik Perusahaan dengan seabrek tujuan, misi, belanja dan sekedar untuk ngabuburit berbuka puasa. Satu persatu pekerjaan terselesaikan, tapi ada satu hal yang menarik bagiku saat itu, ketika mobil kami berbelok ke sebuah rumah panggung. Rumah panggung dengan dinding kayu sisa seadanya itupun banyak lubang di sana sini sehingga harus ditutupi kertas koran, beratap seng yang telah berkarat dimakan usia, berlangit-langit terpal dan kardus yang mungkin kalau diinjak tikus akan runtuh. Kami pun duduk di lantai kayu ulin tak bertikar, tetapi dengan sambutan dari sang tuan rumahnya begitu luar biasa, sangat welcome, tak ada rasa curiga.

Berawal dari program CSR yang ingin memberdayakan masyarakat dengan memberikan subsidi dan pendampingan ternak ayam potong, kami datang ke tempat pak Bahri. Sosok setengah baya ini pun tanpa ada imbalan apapun memberikan ilmu yang ia punyai, sharing, cerita suka dan duka sebagai peternak dan dengan tulusnya akan selalu memberikan bantuannya jika ia diminta. Layaknya ia jadi penyuluh peternakan mengantikan pegawai-pegawai Negara yang memakan gaji buta itu.

Kamipun masih ngobrol ngalor-ngidul mengenai peternakan dan lainnya, ternyata beliau dulu adalah seorang pengusaha ternak dan  kayu yang cukup sukses. Istrinya sebanyak delapan walaupun yang enam diceraikan semua gara-gara hanya ngincar duitnya aja. Yang tersisa menemani beliau hanya istri yang pertama dan istri yang terakhir, dari situ terlihat orangnya romantic dan sangat filosofis, hehehhe. Lalu bagaimana dia bisa terjatuh seperti sekarang ini, tinggal dirumah yang reyot, jadi kuli ternak dan lainnya?

Adalah kerusuhan etnis yang membuat beliau terjatuh, ia beretnis Madura. Harta benda miliknya habis, yang tersisa hanya semangat untuk tetap bertahan di kota tempat ia merantau dengan segenap mimpi-mimpi yang beliau bangun. Yah begitulah kerusuhan, perang, anarkisme dll tak akan membawa sesuatu yang manis, yang berharga dan bernilai, yang ada tinggal kepedihan dankesediahan. Semangat pak bahri…..

Posted on August 2, 2011, in hikmah. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: