mengenang ramadhan di kampung halaman

Allahuakbar Allahuakbar, suara adzan Ashar mulai terdengar dari corong pengeras masjid, pertanda kami segera buru-buru untuk mempersiapkan diri, mengenakan sarung, baju atau kaos seadanya, peci kalaupun ada, maklum saja waktu itu baju baru, kaos, peci amat berharga bagi kami. Kami pun segera beriring-iringan menuju serambi. Dari sudut halaman masjid sudah tampak teman-teman kecilku dengan menenteng buku agenda ramadhan dari sekolah yang harus kami isi, buku tulis untuk mencatat dan sepucuk pena untuk mencatat ilmu yang diajarkan oleh kakak-kakak seniorku.

Untuk yang terakhir, buku tulis dan pena wajib harus kami bawa. Bukan kenapa, saat kaki kami injakkan di undakan lantai yang pertama maka disitulah sudah berdiri sesosok pria besar, rambut godrong kadang dikuncir kadang digeraikan, tanpa senyuman, tampak rahang kuatnya ia tonjolkan, ia pun kemudian bertanya, “ mana buku sama pensilmu?”. Kamipun harus memperlihatkan satu-satu, tak ada yang bisa lolos, kalaupun ada yang tidak membawa buku tulis kamipun harus pulang mengambilnya demi mendapatkan makanan yang kami idam-idamkan. Nasi sedan begitulah teman-teman kecilku menyebutnya. Nasi, sayur, dan lauk yang dibungkus dengan daun pisang dan berbentuk prisma tidak beraturan mirip mobil sedan. Adalah Kang Zahrohwi, yang memberikan pembelajaran bagi kami, belajar kedisiplinan dan kejujuran. Kedisiplinan, karena kami harus selalu membawa buku dan kejujuran, karena tidak ada seorang anakpun yang lolos dari razia yang dilakukannya. Dan satu lagi pelajaran dari beliau, bahwa terkadang dalam pendidikan perlu adanya pemaksaan. Thanks Kang Zahrohwi.

Aku sebut kakak-kakak seniorku, bukannya sok akrab tapi aku menganggap mereka adalah sosok yang banyak mengispirasi buat kami,dari kecil hingga dewasa. Mas Hari Tenang, dia banyak memberikan bekal bagi kami, salah satu yang terkenang adalah belajar mukhadhorah dan bekal ini masih kami terapkan di perantauan dimana kami dapat jadwal untuk  kultum. Lain lagi dengan sosok yang satu ini, mas Arif namanya, ia seorang pemuda yang lucu penuh dengan canda, apalagi kalau sedang bercerita waktu takjilan. Saat itu waktu kami habiskan untuk duduk bersila dengan mendengarkan  cerita-ceritanya, ceritanya lucu, seru, bermakna dan tiada habisnya. Aku dan teman-temanku gak pernah satu kali pun meninggalkan ceritanya, kaki-kaki ini pun tak pernah bergeser sedikit pun berpindah di lantai-lantai serambi masjid, seperti ibu-ibu sekarang yang marah-marah ketika chanel TV sinetronnya dipindah ke acara sepakbola. Sebenarnya masih banyak sosok lain yang belum kami ceritakan disini. Pelajaran yang kedua yang saya dapatkan dari kakak-kakak seniorku, bahwa pendidikan atau pembelajaran akan berhasil jika ada sosok yang menginspirasi, teladan bagi kita.

Jelang magrib, kamipun sudah duduk berbaris rapi menempel di dinding serambi, sambil menunggu nasi sedan yang hendak diberikan kakak-kakak seniorku. Hal yang menarik, saat sirine tanda berbuka puasa belum berbunyi, maka terdengar sahut-sahutan sirine buatan mengacaukan suasana, hehehe memang anak-anak kreatif. Setelah kami berbuka, kamipun wudhu disisi kiri Masjid. Saat itulah terdengar suara artis lagi bernyanyi, merdu sekali, lagunya tentu lagu kesukaan sebagian besar masyarakat Indonesia, dangdut. “ Aku bukan pengemis cintaaaaaaaa, yang harus selalu mengalah……”. Lagu yang dinyayikan artis dangdut top,  tapi aku sedikit lupa dengan namanya, tetapi artis palsu yang menyanyi di tempat wudhu itu aku tidak akan pernah lupa, Kang Ngajiyo namanya. Ngajiyo dalam bahas jawa berasal dari dua kata, ngaji dan yoo. Ngaji berarti menuntut ilmu agama dan yo berarti ajakan, kalau digabungin berarti ajakan untuk menuntut agama. Luar biasa namanya.

Isya, shalat dan tarawihpun tiba, yang kami tunggu-tunggu hanya ada 3, pertama kerupuk semprong jaburan shalat tarawih yang dibagikan. Kerupuk itu sangat berkelas, gurih, renyah dan warna-warni sehingga jadi idola anak-anak waktu itu, sampai kami kadang harus menadahkan sarung kami untuk wadahnya supaya dapat bagian yang banyak. Kerupuk yang istimewa karena dulu jarang makan yang enak. Lain lagi dengan bakpia yang hanya kami dapatkan sekali selama satu bulan Ramadhan di jaburan taraweh. Bakpia menjadi makanan super lux, sama seperti Apertizer atau desertnya para konglomerat jaman sekarang. Pelajaran ketiga, sesuatu yang sedikit, biasa tetapi dirasakan bersama-sama menjadi sesuatu yang istimewa.

Hal yang kedua kami tunggu adalah mainan kembang api biasa yang kemudian dilemparkan ke atas dahan pohon jati yang menjulang di depan masjid, pemandangan berkelas waktu itu yang kami saksikan mengalahkan kembang api di Eiffel di Paris atau di Opera House di Sidney saat pergantian tahun baru. Dan yang kami tunggu-tunggu yang ketiga adalah jaburan darus, tahu susur, kacang godog, bakwan, pisang goring, jadah menjadi motivasi kami untuk selalu absen di tadarus setiap malam. Pelajaran ketiga, bahwa pendidikan memerlukan reward, untuk memotivasi seseorang agar senantiasa semangat dan rajin.

Tak lupa kamipun menghabiskan waktu malam untuk tidur di serambi, sampai sahur tiba ada yang keliling, mengingatkan warga untuk persiapan sahur dari jam 03.00. Begitulah ramadhan di kampung halaman, meninggalkan sejuta kenangan, pembelajaran, dll. Terima kasih senior-seniorku, terimakasih teman-teman kecilku, Memed, Dal, Endro, Wawan, Widodo, Heru, Arif “balung”, Heri, Kotek, dll. Kalian telah mewarnai ramadhanku waktu kecil dulu. Kalimunduku-Kalimundumu.

Posted on August 5, 2011, in social-culture. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: