djogja memberi rasa

Pulang ke kotaku, Ada setangkup haru dalam rindu, Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna……dst, lagu itu mengawaliku saat kaki ini aku injakkan di bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta, aku pun langsung berdendang dalam hati. Sambutan papan reklame di mulut keluar bandara “Djogja Never Ending Asia” mengisyaratkan begitu besar dan berbudayanya kota ini. Setelah lama aku tinggalkan ternyata banyak perubahan di kota ini. Mulai menjamurnya bangunan-bangunan besar di sudut-sudut kota, banyaknya Mall yang berdiri, tempat karaoke, café2 barat, pusat perbelaanjaan dan super market tak terhitung jumlahnya. Ah bukan itu yang aku banggakan, itu kan kaki-kaki kapitalis yang tak pernah kita sadari yang telah menjerat kita sebagai rakyat kecil.

Djogja berhati nyaman, djogja berbudaya, djogja kota pendidikan, begitulah yang aku harapkan. Walaupun diserang teror Si Bejat kapitalisme, tapi masih ada sisa-sisa djogjaku yang mengajakku untuk bernostalgia. Paling suka dengan wisata kulinernya, hingga aku susun jadwal untuk sejenak menikmatinya. Lagi-lagi aku paling benci dengan kuliner ala barat yang muahal, gak enak, tapi lidah orang yang sok kekota-kotaan sangat mencintainya, dengan gaya-gayaan, dan yang terakhir dipamer-pamerkannya.

Paling suka berbelanja di pasar tradisional, murah meriah tapi tak muntah-muntah, pilihannya pasar Concat, pasarnya begitu bersih pilihannya jatuh pada beli bubur dan gudeg dan tahu bacem. Cukup merogoh kocek  Rp. 1000 sampai Rp. 5000 an dapat deh sarapan pagi, hehhehe. Hal semacam itu banyak dijumpai di kota jogja, bahkan sampai ke pelosok-pelosok seantero provinsi. Menu siang bisa di segarkan dengan aneka juice pinggir jalan yang mampu mengademkan panasnya Jogja yang sudah tidak ketulungan. Es Kang Lantip juga memberikan suasana memorable yang mendalam, paling asik minum esnya kalau pas hujan, ada sensasi yang berbeda, sayang kemarin taka da hujan di djogja. Pilihan siang bisa jatuh juga ke makanan kesukaanku, soto. Banyak pilihan macam, rasa, harga bagi yang ingin menambah semangat siang untuk kembali beraktifitas, menambah keringat, membukakan mata dengan menambah sambel pedasnya.

Ternyata bukan cuma soto saja yang berperang, fried chiken dan masakan padang juga terjadi pertempuran sengit soal harga dan rasa, mereka pampang besar-besar harganya demi merebut pelanggan. Soal ini aku termasuk orang yang setia, tak bisa pindah kelain hati, maka cinta ini hanya jatuh kepadamu, Padang Giwangan. Sensasi kuah dan sambel ijonya gak nguatin, bikin ketagihan untuk kembali, dan soal harga Rp. 5500 sudah semuanya.

Beda lagi dengan mie ayam, makanan favorit kesukaan masyarakat  Indonesia ini punya cerita unik dengan teman-teman di Komunitas Soesah Tidoer. Main umpet-umpetan hanya ingin makan mie ayam, sehingga waktu dulu mie ayam jadi bahan ejekan bagi kita. Tapi bu tumini memaksaku untuk tidak punya malu, memaksaku untuk kembali menikmati sensasinya. Bu tumini-bu tumini kau telah memperkosa nafsu makanku.

Malam di djogja terasa panjang kalau dinikmati di pinggir-pinggir jalan, berdiskusi di Angkringan, suasana Djogja lebil terasa. Angkringan Nganggo suwe, atau Lik Man jadi tempat kumpul yang asik, saying acara reuni kemarin gagal, bos-bosnya ada acara sendiri-sendiri. Next year kayaknya harus jadi. Itulah sedikit reportase liburan idul fitri di Djogja kemarin.

Posted on September 20, 2011, in social-culture. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: