RESENSI BUKU “MEMIMPIN KOTA MENYENTUH JAKARTA”

Buku karangan Alberthiene Endah ini mengulas sebuah memoar Jokowi tentang nilai hidup dan kepemimpinan. Ada beberapa hal yang menjadi catatan  bagi saya selama satu minggu ini disela-sela memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku ini.

Kehidupan sederhana, prihatin, pas-pasan tak lantas dianggap sebagai sebuah penderitaan bahkan dianggap sebagai kemiskinan. Karena kemiskinan hanya untuk manusia yang tak mau berusaha. Hidup berpindah-pindah dalam bantaran sungai, rumah berdinding “gedheg” anyaman bamboo, makan tiga kali dengan lauk ala kadarnya menjadi hal yang sangat biasa. Disyukuri dan menjadi sebuah pembelajaran yang istimewa. Tidak perlu merasa miskin ketika berada dalam kondisi berkekurangan. Merasa miskin hanya pantas disematkan pada orang-orang yang putus harapan dan tidak memiliki semangat apa-apa lagi untuk mengubah nasib.

Pendidikan menjadi hal nomor satu, ketika segala modal digadaikan untuk yang satu ini. Akan tetapi ini dibarengi dengan kerjakeras, patungan biaya, memilih passion yang tepat dan kecintaannya. Tak perlu malu ditinggal gengsi. Keberanian dalam berhijarah untuk hidup mandiri, sekiranya patut menjadi contoh bagi kita. Kadang kita dibuai dengan zona aman dari orangtua sehingga apa yang kita lakukanpun terkadang didikte oleh orang tua kita. Maka beranilah untuk berhijrah, menjadi seorang petualang, pengembara.

Keberanian juga patut dilakukan dalam ketika mencoba berbisnis atau berwirausaha. Inilah modal utama. Keberanian dalam melakukan pinjaman usaha. Terkadang kita takut untuk hutang. Lebih baik sejahtera punya hutang daripada miskin tapi tak punya hutang. Pantang putus asa “ menjadi bagian tak terpisahkan dalam berwirausaha. Begitulah dinamika kehidupannya, kadang naik terkadang turun tetapi bagaimana kita harus komit dan konsisten dengan yang harus semestinya dilakukan.

Menjadi seorang pemimpin itu melayani bukan untuk dilayani. Pemimpin terkadang terjerumus dalam pembangunan fisik dan materi, tapi yang terpenting adalah membangun jiwa, memanusiakan manusia, mengenalkan jatidiri mereka, membuat tumbuh rasa percaya diri mereka, membangun sebuah brand yang memiliki karakter, citra yang baik, dan daya tarik yang tinggi saat dikunjungi.

Satu hal lagi kita diciptakan oleh ALLAH dalam keadaan yang berbeda-beda. Maka buatlah berbeda dengan sesuatu yang pada umumnya, tetapi harus positif. Uniq, different menjadi hal yang istimewa, menjual, dan mempunyai nilai.

Posted on February 12, 2013, in social-culture. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: