tv baru

Sudah sekitar 3 minggu ini keluarga kami tak memiliki siaran TV. Sudah sekitar 4 tahun ini kami berlangganan di salah satu produsen TV berlangganan, akan tetapi decordernya mengalami kerusakan. Kami sudah melaporkan by phone akan tetapi teknisi juga tak kunjung datang, dan kami biarkan saja. Makmum daerah tempat tinggal kami tidak bisa menangkap siaran TV lewat UHF jadi harus berlangganan TV satelit. Kalaupun bisa nonton ya kami harus nonton ke tetangga tapi jarang kami lakukan atau kalau pas weekend saat kami pulang ke rumah di Kota Sampit dengan TV Kabel.

Dari kejadian tadi, saya tetap percaya ada hikmah tersendiri yang bisa saya ambil. Saya sering membaca tentang dampak positif dan negative acara TV di Indonesia. Nilai positif acara TV hanya sekitar 20 %, sementara sisanya diisi dengan sinetron, gossip, berita muka-muka koruptor baru, berita tindak kejahatan sadis, Iklan dll. Hampir di tiap stasiun TV ada yang namannya sinetron. Kadang kalau berbicara dengan pecinta sinetron” mereka selalu ngomong, “ kan ada positifnya juga!!!!. Tapi tak pernah dia sadari dampak pengaruh psikologis bagi kejiwaan seorang penontonnya. Gosip, hehehe….gak usah ngomongin gosip, nanti malah jd asik ngosipin gosip….

Berita tentang korupsi di negeri ini, seakan-akan membuat korupsi itu sudah menjadi umum. Kita tengok di TV, koruptor sudah tidak malu lagi nongol di depan TV, memasang senyuman, dan selalu berkata, “biarkan hukum dipersidangan yang berbicara”, padahal hukum di Indonesia katanya bisa dibeli. Terkadang kalau umum itu menjadi suatu budaya. “Nek Ra Edan ora komanan” begitulah pepatah jawa mengatakan.

Yang lebih sadis juga tayangan kejahatan menjadi sesuatu yang menarik, dikemas lewat acara tersendiri, bahkan menayangkan begitu detail, dengan menayangkan reka ulang. Bukankah itu membuat orang menjadi tahu bagaimana cara berbuat kejahatan. Dantakutnya  lagi kejahatan menjadi semacam budaya. Saya pernah membaca dalam sebuah situs internet, bahwa tanyangan kejahatan tidak layak menjadi konsumsi public, apalagi anak-anak. Di negara Amerika Serikat tayangan semacam ini dibatasi penayangannya.

Dan yang paling besar dampaknya tapi tak pernah kita sadari adalah iklan. Iklan di TV Indonesia ribuan jumlahnya dan tayang setiap 5 menit sekali. Iklan berpengaruh besar terhadap budaya bangsa kita, budaya konsumtif. Dan ternyata bangsa Indonesia merupakan market besar bagi produsen di seluruh dunia dan dunia mengincar bangsa ini.

Tapi Alhamdulillah, semenjak TV tidak ada siaranya, kami mulai  menemukan hikmahnya. Aku menemukan stasiun TV baru, namanya Jabar TV dan Union TV. Acaranya sangat menghibur, lucu dapat langsung berinteraksi dengannya dan selalu mengemaskan. Merekapun dapat memiliki teman setelah seharian dari pagi hingga sore kami tinggal bekerja. “maafkan kami nak”.

Back to Masjid, Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami yang telah meninggalkan kewajiban kami untuk beribadah di Masjid. Alhamdulillah sekali setiap adzan berkumandang, anakku mas Jabar selalu mengajakku untuk sholat di Masjid, dan kalau tidak dituruti dia akan marah. Terimakasih juga Om, om tetanggaku yang juga ikut menghabbit mas Jabar beribadah dan sholat di masjid. Ini jarang dulu kami lakukan ketika suara TV jauh menguasai suara rumah kami dibanding suara adzan. Ya Allah ampunilah kami.

Membaca, ya membaca. Bukankah membaca itu jendela dunia. Ketika TV bergelut dengan buku, maka pemenangnya adalah TV. Dan sekaranglah saatnya menikmati kemenangan sang buku. Sudah ada beberapa buku yang sudah kami baca. Dan memang buku menghadirkan ide, gagasan, membuka mata, jiwa dan pikiran untuk lebih maju lagi. Setelah membaca tentunya ada beberapa yang kami tuliskan sebagai catatan. Disinilah kami mulai mengairahkan lagi ghiroh menulis yang sekian lama terpendam oleh tayangan TV itu.

Selain beberapa hal diatas, ada satu hal lagi kami bisa bangun lebih pagi. Ternyata menonton TV itu sangat melelahkan mata. Begitulah kiranya semoga bermanfaat, dan minta maaf banyak salahnya. Tapi seberapa kuat nafsu kami untuk tidak lagi berteman akrab dengan TV, hehehehhe.

Posted on February 12, 2013, in social-culture. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: